Sulitkah menyampaikan da’wah. . . . . .?
Menyelami Da’wah
Islam selalu mengajak manusia untuk berda’wah. Bahkan Rasulullah sebagai utusan Allah di muka bumi ini juga mempunyai amanah agar selalu berda’wah, yaitu selalu mengajak para umatnya agar dapat mengenal siapa tuhannya. Berda’wah pada masa Nabi saw dulu juga dilakukan melalui dengan berbagai cara, sebagaimana yang telah kita ketahui, ada yang dilakukan dengan cara terang-terangan, ada juga dengan cara sembunyi-sembunyi. Hal ini dilakukan tentunya karena ada beberapa penyebab (yang mungkin tidak begitu perlu untuk skami sampaikan pada tulisan ini) sehingga harus dilakukan seperti itu.
Namun, sebelum beranjak lebih jauh mungkin perlu kami definisikan dulu apa maksud dari da’wah sebagaimana yang kami pahami. Da’wah, adalah mengajak manusia kepada segala kebaikan yang bisa membawanya kepada rahmat Allah swt. Entah itu dari sisi yang memang pada dasarnya dikatakan baik, ataupun dari hal yang memang dilarang atau sepantasnya tidak dikerjakan.
Islam selalu mengajak kepada kita sebagai manusia agar selalu memaksimalkan pikirannya. Baik itu dengan cara memikirkan keadaan sekitar, alam dan lingkungan, maupun tindak tanduk manusia. Mengapa?, karena pada hakikatnya semua yang terjadi, semua yang diciptakan adalah mempunyai hikmah tersendiri yang direncanakan oleh Allah kepada hamba-Nya.
Berda’wah, pada zaman seperti sekarang ini banyak sekali sarana/media yang bisa dilakukan untuk mempermudahnya. Sebab, da’wah tidak cukup hanya dengan disampaikan secara oral seperti pidato atau ceramah saja. Melihat betapa canggih dan majunya teknologi yang telah tersedia, dengan kemudahan untuk mengaksesnya, kapanpun dan dimanapun.
Media, sebagai salah satu senjata da’wah
Berda’wah, banyak sekali media yang mendukungnya. Diantaranya :
Melalui tulisan. Ini adalah salah satu sarana yang paling pokok, bahkan bisa dikatakan paling penting. Dengan tulisan, para penulis bisa mengajak para pembacanya untuk bisa memasuki nalarnya dengan cara membaca kitab atau tulisannya itu. Ini khususnya untuk zaman dahulu yang mana kitab klasik bisa dijadikan sebagai panduan dalam penyampaian da’wah. Beda lagi dengan era globalisasi seperti saat ini. Sarat sekali media melalui tulisan untuk digunakan sebagai alat berda’wah. Misal saja, internet. Dengan kemajuannya yang begitu pesat, berkembanglah berbagai program didalamnya. Facebook, multiply, website, blog, dan sebagainya yang entah berkembang apa lagi nantinya. Itu semua telah begitu mendarah daging dalam ketertarikan manusia untuk menjadi konsumennya, khususnya para remaja pada saat ini. Dan sangat mungkin sekali bila kita menjadikannya sebagai senjata yang begitu kuat untuk dimanfaatkan sebagai media da’wah, melihat kondisi remaja saat ini.
Melalui lisan dan pendengaran. Ini mungkin bisa kita beri pengertian sebagai diskusi atau musyawarah. Dengan membentuk kelompok kecil untuk pertama kali. Atau bisa juga disebut ceramah, yang nantinya bertujuan juga sebagai misi da’wah.
Melalui visual. Media ini memanfaatkan alat penglihatan kita khususnya, seperti televisi, VCD, DVD, dan sebagainya. Dan peralatan tersebut juga telah sering kita jumpai. Apalagi di rumah kita sendiri. Media ini bisa dimanfaatkan untuk berda’wah, yang mungkin digunakan oleh para orang yang sudah agak lanjut usianya. Sebab yang memungkinkan untuk digunakan memang media ini dan melalui ceramah tadi, dan sepertinya terlalu jauh bila mereka menggunakan media internet sebagaimana media pertama di atas.
Berda’wah, memang tak bisa dipaksakan. Sebab sebagai manusia, kita hanya diperintah untuk menyampaikan saja. Tidak perlu terlalu memaksakan kehendak. Sebab, tetaplah Allah yang memberi kesadaran -hidayah- kepada hambaNya.
Jadi, khususnya untuk zaman sekarang ini. Yang sudah sangat marak sekali kemungkaran dilakukan, maka sebagai makhluk yang masih selalu bergantung dan bersandar kepadaNya, selayaknyalah kita juga selalu mengingatkan atau bisa diistilahkan berda’wah kepada orang di sekitar kita untuk selalu mengingatkan bahwa Allah selalu memperhatikan kita dan segala perbuatan yang kita lakukan. Karena sesungguhnya kita semua adalah seorang Da’i/yah, minimal untuk diri kita. Meskipun sebagai manusia kita juga tidak luput dari segala kesalahan. Tapi, setidaknyalah keburukan itu selalu diiringi dengan segala bentuk kebaikan yang bisa kita lakukan. Oleh karena itu mungkin kata terakhir yang dapat kami katakan adalah “ apakah sulit untuk berda’wah ?”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar