Menyelami makna belajar
Belajar adalah sebuah kata yang terkadang terbatas sekali dalam memaknainya. Hal ini karena kebanyakan dari kita sering memaknainya sekedar hanya di lingkungan sekolah saja, atau dapat juga disebut dengan lembaga-lembaga pendidikan, baik lembaga umum atau keagamaan. Sehingga, belajar hanya di sekolah, belajar harus berseragam, belajar harus membawa buku, atau pen, bahkan tas. Padahal sebenarnya luas sekali makna belajar. Jika belajar hanya dimaknai sebatas itu, maka sungguh sempit sekali ruang gerak kita ( pemikiran, ide kreatif ). Lalu, apa sebenarnya makna belajar itu sendiri ??. Belajar, luas sekali cakupan maknanya. Mengenal diri sendiri, memanajemen waktu dengan efektif itu semua juga bisa disebut dengan belajar. Karena, belajar bukan hanya sebatas di dalam ruangan saja (kelas).
Carilah ilmu (belajarlah) sejak dalam kandungan hingga ajal menjemputmu. Sebuah perkataan dalam hadis yang tak asing lagi untuk kita dengar. Bahwa memang tidak ada batas bagi manusia untuk belajar, mengembangkan potensi, dan selalu memperbaiki kualitas dirinya. Menyambung perkataan di atas bahwa memang “tidak ada istilah tua untuk belajar”, kalau hal ini dimaknai demikian, maka sungguh semua orang bila sudah tertancap jiwa pembelajar pada dirinya, tidak mungkin dia menyia-nyiakan sisa umurnya tanpa belajar. Kapanpun dan dimanapun dia akan selalu mencari ilmu atau menambah pengetahuan baru bagi dirinya, bahkan mungkin dia akan bercita-cita untuk bisa memajukan (mensukseskan) orang –orang di sekitarnya –dalam ruang ilmu-. Namun, bila hal itu dimaknai sebaliknya, maka bisa saja belajar itu dimaknai sebagai sebatas sekolah saja dan sudah cukup sampai di situ bila diwisuda.
Karena terkadang sempit dalam memaknai kata belajar, hal ini berimbas dalam pendidikan yang terjadi di negara kita. Sehingga bersekolah terasa begitu membosankan, bahkan bisa dikatakan mematikan kekreatifan. Sekolah tidak lagi dimaknai sebagai tempat belajar tapi hanya sebatas tempat mencari nilai dan ijazah, yang nantinya dapat mempermudah mencari pekerjaan. Bahkan bila telah diwisuda, bisa saja semua mata pelajaran yang telah dipelajari telah menghilang entah kemana. Bila hal demikian yang terjadi, lalu bagaimana keadaan negara kita selanjutnya ?.
Maka, dengan melihat fenomena yang terjadi, sesungguhnya belajar agar terasa menyenangkan harus ditemukan triknya. Maksud trik di sini adalah mengetahui mengenai gaya belajar, metode belajar, dan sebagainya yang mana sebenarnya tidak ada istilah pintar ataupun bodoh sebagai julukan kepada seorang anak/siswa. Sebab hal itu dapat dilihat dari tempat dan keadaannya saja. Ada anak (siswa) yang pintar sekali di kelasnya, tapi mungkin saja dia lemah dalam belajar berenang. Oleh karena itu, seseorang yang mempunyai karakter tertentu, semestinya ada cara tertentu pula bagaimana dia belajar. Beda karakter, (seharusnya) beda pula cara belajar, karena sebenarnya karakter manusia terbagi menjadi empat katagori, yaitu : Sanguin, Koleris, Melankolis, dan Plegmatis. Dan ini adalah keunikan dan watak dasar setiap manusia sejak dia dilahirkan oleh kedua orangtuanya. Yang apabila guru sebagai pendidik paham benar mengenai hal tersebut, proses belajar akan menciptakan suasana yang begitu menyenangkan dan menggairahkan mugkin dan tentunya tidak meninggalkan sebuah istilah dalam proses belajar, yaitu Teaching By Hearth-Learning By Mind.
Seyogyanya sebagai manusia, kita memiliki jiwa pembelajar yang selalu dapat mengambil hikmah dari segala yang dilakukan, dilihat, dirasa yang nantinya belajar tidak hanya sebatas di sekolah atau di kuliah saja. Yang hanya belajar secara statis di kelas, di laboratorium tanpa ada perubahan yang lebih baik. Namun, semestinya dengan belajar itulah kita harus selalu bergerak, bergerak untuk menciptakan perubahan, baik dalam diri, lingkungan, keluarga, dan sekitar. Sehingga kesempatan hidup yang sekarang ini tidak menjadikan kita menyesal di kemudian hari.
Membaca, salah satu cara memperluas wawasan
Membaca, adalah kegiatan yang mungkin sangat membosankan dan tidak menarik bagi seseorang atau beberapa orang, untuk orang Indonesia pada umumnya (bukan berarti terlalu merendahkan). Padahal dengan membaca, baik membaca buku, koran, majalah, dan yang lain (membaca alam, lingkungan, karakter seseorang) adalah kunci kemajuan manusia. Dengan membaca, manusia bisa menambah wawasannya, membuka cakrawala dunia, menelurkan ide-ide kreatif karena hasil bacaan yang telah dibacanya. Bahkan Allah pun telah menurunkan titah-Nya yang pertama dalam surat al-‘Alaq, yaitu : “Bacalah.....” sampai beberapa kali kepada manusia sekaligus utusan yang begitu dicintai-Nya, Baginda Muhammad saw. Namun, selain menambah wawasan sebenarnya membaca juga seharusnya merubah mindset si pembaca. Karena seumpama ada kebun bisa menjadi semarak dengan aneka buah yang ranum, itu karena benih yang ditabur jauh sebelumnya. Maka membaca adalah menabur pikiran-pikiran positif di otak manusia. Pikiran itulah yang lalu membuat otak memerintahkan tubuh untuk bergerak. Bergerak untuk selalu merubah hal-hal yang mungkin harus diperbaiki, ditingkatkan, dan dikembangkan, terutama dari dalam diri kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar